Peserta Coal Trans Asia 2009 Mengaku Kecewa

nKalimantan Coal

Nusa Dua. Abraham Lagaligoabraham@majalahtambang.com Nusa Dua – TAMBANG. Memasuki hari kedua pertemuan dan pameran tahunan batubara, Coal Trans Asia ke-15, Selasa, 2 Juni 2009, satu-persatu peserta mengaku kecewa. Mereka mengungkapkan kekesalannya, mulai dari sikap kaku panitia sampai pada penyediaan fasilitas yang tidak memuaskan. Protes yang diajukan pun tidak banyak ditanggapi oleh penyelenggara. Sejak hari pertama, suasana pelaksanaan pertemuan para produsen, konsumen, dan jasa penunjang industri batubara itu, terkesan kacau. Tak sedikit peserta yang menggunjingkan kelengahan panitia, hingga Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro harus memukul gong pembuka acara dengan tangan kosong. Seorang peserta dari kontraktor pertambangan nbatubara ternama di Indonesia, mengungkapkan kekecewaannya terhadap sikap kaku panitia. Meski ikut berpartisipasi sebagai sponsorship dalam acara itu, perusahaan kontraktor itu tidak mendapatkan kemudahan dan keramahan sama sekali. “Meski sponsor, kita tetap harus membayar jika ingin mengirimkan delegasi. Saya semula booking untuk delapan delegasi, tapi ternyata yang bisa berangkat cuma enam orang. Waktu registrasi, penyelenggara tetap mengharuskan membayar untuk delapan orang,” keluh wakil perusahaan itu kepada Majalah TAMBANG. Kisah serupa diungkapkan seorang delegasi dari perusahaan konsultan batubara. Dirinya semula booking untuk dua orang, namun yang bisa berangkat ke arena Coal Trans di Bali International Convention Center, Nusa Dua, Bali, hanya satu orang. “Panitia dari Inggris tetap memaksa saya membayar untuk dua orang. Jika tidak, saya diancam akan di-black list dari forum Coal Trans di seluruh dunia,” jelas delegasi asal Indonesia itu kecewa. Dia juga heran, mengapa peserta lokal tidak diberi discount (potongan harga) tiket untuk mengikuti Coal Trans yang diadakan di Indonesia. Padahal saat acara itu digelar di China, peserta lokal di sana mendapatkan potongan harga yang cukup lumayan. Untuk diketahui, tiket Coal Trans untuk satu orang dibandrol pada harga USD 1700 atau setara dengan Rp 17 juta. Sedangkan bagi mereka yang hanya ingin melihat-lihat pameran, diharuskan membayar tiket senilai USD 900 atau sekitar sembilan juta rupiah.Sejumlah peserta juga heran, sebuah acara besar yang digelar di Indonesia, sama sekali tidak mengundang kalangan asosiasi dan pengambil kebijakan dari luar pemerintah. Sejumlah pengurus dari kalangan asosiasi seperti Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (PERHAPI), Indonesian Mining Association (IMA), Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia, mengaku datang atas inisiatif dan merogoh kocek sendiri. Pimpinan mereka pun tak ada yang diundang. Peserta dari Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pun mengaku harus membayar penuh, untuk ditugaskan ke acara itu. “Terkesan pihak penyelenggara cuma ingin mengeruk keuntungan semata, dari forum yang diadakan di negeri kita sendiri,” ujar seorang peserta memberikan kritik. Beberapa peserta pamran juga mengeluhkan tata letak stan pameran yang tidak strategis. Mereka diletakkan pada lorong yang jarang dilalui peserta. Sehingga stan-stan itu pun sepi pengunjung. Sementara stan-stan dari perusahaan asal luar negeri diberi tempat yang strategis. Menjelang akhir forum pada hari kedua, Selasa sore, tiba-tiba jaringan internet yang disediakan di arena Coal Trans tak bisa diakses. Layanan wi-fi pun tak dapat digunakan, sementara panitia tidak menyediakan tempat pengaduan. Akibatnya, para peserta yang rata-rata pengusaha dan butuh berkomunikasi melalui internet, harus menelan ludah. Beberapa peserta yang ditemui Majalah TAMBANG juga mengeluhkan rasa makanan yang tidak enak. Meski 70% pesertanya orang Indonesia, namun pihak penyelenggara Coal Trans Asia 2009 tidak menyediakan menu nasi. Banyak peserta yang memilih membeli makanan sendiri di sekitar arena Coal Trans. Tahun ini, peserta Coal Trans Asia tercatat sebanyak 1400 orang. Mereka sebagian besar datang dari Indonesia, China, dan India. Sebagian kecil lainnya datang dari Eropa, Amerika Serikat, Australia, dan Timur Tengah. Jumlah itu belum termasuk peserta dan pengunjung pameran yang mencapai ribuan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s